Header Ads

Inilah 5 Wajah Wanita di Perangko Indonesia

1. Ani Idrus

Ani Idrus lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918, seorang wartawati senior yang mendirikan Harian Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947. Selain menggeluti dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Beberapa karyanya: Buku Tahunan Wanita (1953), Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci (1974), Wanita Dulu Sekarang dan Esok (1980), Terbunuhnya Indira Gandhi (1984), Sekilas Pengalaman dalam Pers dan Organisasi PWI di Sumatra Utara (1985), Doa Utama dalam Islam (1987).

Pemerintah RI memberikan segudang penghargaan antara lain: Satya Lencana Penegak Pers Pancasila, Anugrah Citra Wanita Pembangunan Indonesia, Anugrah Bintang Jasa Nararya (yang diserahkan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita kala itu, Ibu Mien Sugandhi), penghargaan Putra Penerus Pembangunan Bangsa, Lencana Emas, Tokoh masyarakat teladan Sumatra Utara, penghargaan “Srikandi Award”, penghargaan “Who of The Year 1995″, penghargaan Citra Abadi Pembangunan dan Anugrah Peniti Emas 50 tahun dari SPS cabang Sumatra Utara, dan terakhir setelah beliau meninggal mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Utama yang diserahkan Ibu Megawati sebagai Wapres RI.

Beliau wafat di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999 pada umur 80 tahun. Ani Idrus dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin – Medan. Terakhir ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia Wanita di Medan. Pada akhir hayatnya, ia juga menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola WASPADA, Medan, Direktur PT. Prakarsa Abadi Press, Medan, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara.


2. Sandiah (Ibu Kasur)

Sandiah atau lebih dikenal dengan nama Ibu Kasur, lahir pada 16 Januari 1926 di Jakarta adalah pembawa acara Taman Indria di TVRI dan juga pendiri TK Mini di Jakarta. Ia mendapat julukan Ibu Kasur karena suaminya (Soerjono) dipanggil Pak Kasur. Bu Kasur adalah tamatan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ia dan suaminya bertemu karena sama-sama anggota Kepanduan Indonesia. Mereka menikah di Yogyakarta pada tanggal 29 Juli 1946 dan dikaruniai lima anak: Sursantio, Suryaningdiah, Suryo Prabowo, Suryo Prasojo, dan Suryo Pranoto. Beberapa lulusan TK Mini yang terkenal adalah mantan presiden Megawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Hayono Isman dan Ateng. TK ini didirikan pada tahun 1965.

Kecintaan terhadap dunia pendidikan anak-anak ia bersama suaminya Pak Kasur ungkapkan melalui beberapa karya lagu diantaranya; Sayang Semua, Bangun Tidur, Kring-Kring Ada Sepeda, Lihat Kebunku, Hari Sekolah, Sayang Semuanya, 1 2 3 4, Selamat Siang, Nama-Nama Hari, Naik Delman, Kucingku Belang Tiga, Paman Dullah Jeruk Bali, Yok Makan, Dua Mata Saya, Pohon Jambu, Tari Tepuk Tangan, Kuda Lumping

Atas jasanya di dunia pendidikan anak-anak, Ibu Kasur pernah menerima sejumlah penghargaan, antara lain Bintang Budaya Para Dharma pada tahun 1992, penghargaan dari Presiden dalam rangka HariAnak Nasional (1988), serta Centro Culture Italiano Premio Adelaide RistoriAnno II dari Pemerintah Italia pada tahun 1976. Terakhir Bu Kasur juga mendapatkan penghargaan sebagai pembawa acara anak-anak legendaris di televisi. Namun, segala penghargaan itu, apa pun bentuknya, tidak lantas membuat Bu Kasur puas dan berbangga diri, apalagi menepuk dada.

Ia meninggal pada 22 Oktober 2002, setelah menjalani perawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Cikini akibat stroke kedua yang dialaminya.


3. Nyonya Meneer

Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer (baca: Menir), lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895. Ia adalah seorang wirausahawan di bidang industri jamu di Indonesia. Namanya berasal dari beras menir, yaitu sisa butir halus penumbukan padi. Ibunya mengidam dan memakan beras ini sehingga pada waktu bayi yang dikandungnya lahir kemudian diberi nama Menir. Karena pengaruh ejaan Belanda ejaan Menir berubah menjadi Meneer.

Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1900’an, di masa-masa penuh keprihatinan dan sulit itu suaminya sakit keras dan berbagai upaya penyembuhan sia-sia. Ibu Meneer mencoba meramu jamu Jawa yang diajarkan orang tuanya dan suaminya sembuh. Sejak saat itu, Ibu Meneer lebih giat lagi meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas.

Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota sekitar. Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia. Selain mendirikan pabrik Ny Meneer juga membuka toko di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar. Di tangan Ibu dan anak, Nyonya Meneer dan Hans Ramana perusahaan berkembang pesat. Nyonya Meneer meninggal dunia tahun 1978.

Hari Kartini 2004 silam, pendirinya yakni Nyonya Meneer dijadikan sebagai perangko dalam Seri Tokoh Wanita. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi dan PT Pos Indonesia sengaja mengukuhkannya Untuk menghargai keberhasilan perusahaan jamu yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah.


4. Gedong Bagoes Oka

Gedong Bagus Oka dilahirkan di Karangasem, 2 Oktober 1921, dengan nama Ni Wayan Gedong dari ayahnya, I Komang Layang dan ibunya, Ni Komang Pupuh. Gedong Oka salah seorang pelopor spiritual lintas agama itu. Dikenal sebagai wanita `tangan besi`, dikarenakan tidak pernah lekang dalam mempertahankan prinsif tentang ajaran Hindu yang disampaikan kepada pengikutnya, sementara beberapa orang mengatakan terlalu bernafaskan dan berkiblat ke India. Walaupun demikian, ia dikenal pula sebagai tokoh pembaruan Hindu dan gerakan anti kekerasan di Indonesia.

Kehidupan modern melangkah bersama kecenderungan manusia untuk mengarah pada kepuasan dan kesenangan lahiriah semata. Ia tidak perlu melayangkan pandangannya terlampau jauh. Gugatan keprihatinan muncul dalam kesadaran dan persentuhannya dengan kenyataan di sekitar dirinya sendiri. Bertolak dari situasi kampung halamannya, Bali, yang mulai terkontaminasi efek hedonis Barat yang merusak, Ibu Gedong berniat mengakarkan kembali kaum muda pada jatidiri ke-Bali-an mereka.

Nilai-nilai spiritual yang humanis menjadi pilihannya, Namun, bukan corak ekslusif, sukuis,dan tertutup dari Hindu-Bali yang hendak dikedepankan. Kesejatian ajarannya terletak dalam penghargaan akan kehidupan, alam, dan manusia, pertautan antara makrokosmos dan mikrokosmos sebagai bagian dari diri setiap persona. Getaran kecil dalam hatinya semakin kuat menuntut perwujudan. Maka, di tengah pro-kontra yang sempat mengkhawatirkannya, Ibu Gedong mendirikan Ashram Candi Dasa di Karangasem, Bali, sebuah ashram yang bercorak Gandhi. Ia meninggal di Jakarta, 14 November 2002 pada umur 81 tahun, Pensiunan Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana itu, meninggalkan enam putra dan sejumlah cucu. Sebelum menghembus napas terakhir, sempat mengadakan lawatan ke Swiss, Swedia dan Belanda.
5. Ibu Tien

Raden Ayu Siti Hartinah (lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil “Tien” merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional R.I. tak lama setelah kematiannya.

Siti meninggal akibat penyakit jantung yang menimpanya pada Minggu, 28 April 1996, di RS Gatot Subroto, Jakarta. Berawal dari saat Siti terbangun akibat sakit jantung yang menimpanya, lalu dilarikan ke RS Gatot Subroto. Namun tim dokter telah berusaha maksimal, takdir berkata lain. Siti meninggal dunia pada Minggu, 28 April 1996, jam 05.10 WIB, pada umur 72 tahun. Soeharto sangat lama merasa terpukul atas kematian Siti.


Narasi : forum vivanews
foto : unik.com 

No comments:

Powered by Blogger.